Langsung ke konten utama

Kecelakaan di Flyover Buaran: Cuaca Buruk Jadi Pemicu Utama

         Pada Rabu malam, 22 Oktober 2025, terjadi kecelakaan di Flyover Buaran, Jakarta Timur, saat sebuah truk menabrak mobil pikap yang melaju pelan di tengah hujan deras. Benturan menyebabkan sopir truk terjepit di kabin dan pengemudi pikap luka di kepala. Petugas Gulkarmat mengevakuasi korban dan keduanya dibawa ke rumah sakit. Diduga, kecelakaan dipicu jarak pandang terbatas dan kurangnya antisipasi pengemudi akibat cuaca buruk.

Hujan deras yang mengguyur kawasan Jakarta Timur pada Rabu malam, 22 Oktober 2025, menjadi latar belakang terjadinya kecelakaan lalu lintas di ruas Flyover Buaran. Dalam insiden tersebut, sebuah truk boks menabrak mobil pikap pengangkut tahu yang sedang melaju perlahan dengan lampu hazard menyala. Kedua kendaraan sama-sama melaju dari arah Jalan Radjiman Widyodiningrat menuju Buaran saat jarak pandang menurun akibat intensitas hujan yang tinggi.


Benturan keras membuat kabin truk ringsek parah hingga sopirnya terjepit di dalam kendaraan. Sementara itu, pengemudi pikap mengalami luka di bagian kepala akibat benturan keras dari belakang. Warga sekitar yang melihat kejadian langsung menghubungi petugas pemadam kebakaran dan kepolisian untuk melakukan evakuasi. Tak lama kemudian, tim Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Timur tiba di lokasi dengan membawa dua unit light rescue dan satu unit medium rescue. Proses evakuasi berjalan cukup dramatis karena korban terjepit di ruang sempit kabin yang penyok.

                                       sumber foto : Antara 


Setelah sekitar 20 menit, petugas berhasil mengeluarkan sopir truk dalam kondisi sadar meski mengalami luka pada kaki. Kedua korban kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Sementara itu, kedua kendaraan yang terlibat diamankan polisi sebagai barang bukti untuk keperluan penyelidikan.

Menurut keterangan petugas di lapangan, kecelakaan ini diduga kuat dipicu oleh jarak pandang yang terbatas serta kurangnya antisipasi pengemudi truk terhadap kondisi jalan dan kendaraan di depannya. Selain itu, kondisi flyover yang licin akibat hujan juga memperburuk situasi. Petugas mengimbau masyarakat agar selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat berkendara di jalan layang yang memiliki risiko lebih tinggi saat hujan.


Kejadian ini menjadi pengingat bagi semua pengguna jalan bahwa keselamatan di jalan raya tidak hanya bergantung pada kecepatan atau kemampuan kendaraan, tetapi juga pada kehati-hatian dan kesadaran pengemudi dalam menyesuaikan diri terhadap kondisi cuaca dan lingkungan sekitar.

Antara News – "Hujan deras, truk boks tabrak pikap di Buaran, Jaktim" (22 Oktober 2025)

👉 antaranews.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

22 Bulan Bulak Barat Terendam Banjir

          Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi hampir 22 bulan. Inilah catatan waktu pahit bagi warga di perbatasan Bulak Barat dan Pasir Putih, Kota Depok, yang rumah dan jalanannya masih terkepung banjir, menuntut perhatian segera. Genangan cokelat keruh itu telah menjadi pemandangan harian yang mati rasa. Bagi warga di perbatasan Bulak Barat dan Pasir Putih, Depok, air ini bukan lagi musiman; ia adalah tamu tak diundang yang menetap hingga hampir 22 bulan—sebuah rekor suram yang membuktikan lumpuhnya tata kelola lingkungan. Pagi hari tidak lagi disambut dengan embun, melainkan aroma anyir dari air yang bercampur sampah organik dan plastik. Di tengah kenyataan pahit itu, ada sosok-sosok gigih yang berjuang. Salah satunya adalah Pak Harjo (60 tahun, nama samaran). Di bawah terik matahari, dengan topi lebar yang melindungi wajah keriputnya, ia berendam di air setinggi lutut. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya memanggul karung-karung raksasa yang penuh de...

Nasib Tukang Sepatu Pasca-Pandemi

          Pedagang sepatu jalanan di pinggir Jalan Raya Bogor beroperasi dari pukul 5 sore hingga 12 malam, namun mereka mengeluhkan penurunan drastis dalam penjualan. Sebelum COVID-19, keuntungan mereka bisa mencapai 200-300%, tetapi kini hanya 40%. Penurunan ini, menurut mereka, disebabkan oleh meluasnya media massa saat pandemi, yang mendorong masyarakat beralih ke belanja daring (online shop) daripada harus keluar rumah. (Lampu kuning jalanan yang temaram membungkus sosoknya, menciptakan siluet perjuangan di pinggir Jalan Raya Bogor. Pria itu, dengan jaket merah bergaris kuning yang sedikit usang dan topi pet hitam, berjongkok di antara tumpukan sepatu bekas, tatapannya menerawang jauh ke hiruk-pikuk malam. Ia adalah salah satu dari sekian banyak pedagang kaki lima yang menjajakan harapan kecil di atas aspal ibu kota.)                                         ...