Bukan hitungan hari atau minggu, tetapi hampir 22 bulan. Inilah catatan waktu pahit bagi warga di perbatasan Bulak Barat dan Pasir Putih, Kota Depok, yang rumah dan jalanannya masih terkepung banjir, menuntut perhatian segera.
Genangan cokelat keruh itu telah menjadi pemandangan harian yang mati rasa. Bagi warga di perbatasan Bulak Barat dan Pasir Putih, Depok, air ini bukan lagi musiman; ia adalah tamu tak diundang yang menetap hingga hampir 22 bulan—sebuah rekor suram yang membuktikan lumpuhnya tata kelola lingkungan. Pagi hari tidak lagi disambut dengan embun, melainkan aroma anyir dari air yang bercampur sampah organik dan plastik.
Di tengah kenyataan pahit itu, ada sosok-sosok gigih yang berjuang. Salah satunya adalah Pak Harjo (60 tahun, nama samaran). Di bawah terik matahari, dengan topi lebar yang melindungi wajah keriputnya, ia berendam di air setinggi lutut. Tangannya yang kasar tak henti-hentinya memanggul karung-karung raksasa yang penuh dengan limbah. Karung-karung putih itu, yang ditumpuk di atas bahunya dengan sebatang kayu, terasa seperti memanggul beban seluruh kampung.
"Kalau bukan kami yang membersihkan, siapa lagi? Saluran air ini sudah mati," keluh Pak Harjo dengan suara berat, peluh mengalir dari pelipisnya.
Sungai yang seharusnya menjadi nadi kehidupan kini berubah menjadi urat yang tersumbat. Tumpukan sampah plastik, botol, dan dedaunan busuk di latar belakang foto adalah bukti nyata dari keserakahan manusia dan kegagalan sistem. Timbunan limbah yang menggunung di permukaan air berfungsi sebagai bendungan dadakan, memampatkan aliran sungai dan menjebak air banjir di pemukiman warga.
Akibatnya, keseharian di Bulak Barat dan Pasir Putih menjadi drama kesusahan tanpa akhir. Anak-anak harus digendong atau diantar menggunakan perahu kecil hanya untuk mencapai sekolah yang berjarak ratusan meter. Lantai rumah yang lembap memicu penyakit kulit dan pernapasan. Lebih dari sekadar kerugian material, banjir abadi ini merenggut martabat dan waktu warga. Mereka kehilangan pekerjaan karena akses terputus, dan harus menguras energi hanya untuk bertahan hidup.
Aksi Pak Harjo dan beberapa tetangga yang mencoba membersihkan sumbatan ini adalah sebuah ironi; mereka adalah korban yang dipaksa menjadi pahlawan. Dalam setiap langkah kakinya yang berat membelah air, tersimpan harapan sederhana: agar suatu hari nanti, mereka bisa kembali melihat tanah kering di perbatasan Bulak Barat dan Pasir Putih, dan bahwa beban karung sampah ini tidak lagi harus ia panggul sendirian.

Komentar
Posting Komentar