Pedagang sepatu jalanan di pinggir Jalan Raya Bogor beroperasi dari pukul 5 sore hingga 12 malam, namun mereka mengeluhkan penurunan drastis dalam penjualan. Sebelum COVID-19, keuntungan mereka bisa mencapai 200-300%, tetapi kini hanya 40%. Penurunan ini, menurut mereka, disebabkan oleh meluasnya media massa saat pandemi, yang mendorong masyarakat beralih ke belanja daring (online shop) daripada harus keluar rumah.
(Lampu kuning jalanan yang temaram membungkus sosoknya, menciptakan siluet perjuangan di pinggir Jalan Raya Bogor. Pria itu, dengan jaket merah bergaris kuning yang sedikit usang dan topi pet hitam, berjongkok di antara tumpukan sepatu bekas, tatapannya menerawang jauh ke hiruk-pikuk malam. Ia adalah salah satu dari sekian banyak pedagang kaki lima yang menjajakan harapan kecil di atas aspal ibu kota.)
Senja di Kaki Lima: Pergeseran Nasib di Era Digital
Malam baru beranjak, dan jarum jam menunjuk pukul lima sore. Ini adalah penanda dimulainya 'shift' kedua bagi para pedagang sepatu di tepi jalanan Bogor, termasuk pria yang enggan disebut namanya selain "Pak De". Sambil sesekali merapikan sepasang sepatu kets putih yang menjadi primadona di lapaknya, Pak De menghela napas panjang. Bukan lelah fisik yang membebaninya, melainkan beban pikiran tentang angka-angka penjualan yang kian merosot.
"Dulu, sebelum ada Covid, mas, untungnya bisa sampai tiga kali lipat. Laku keras," ujarnya dengan nada yang menyimpan nostalgia manis. Senyumnya samar saat mengingat masa keemasan itu. Angka 200 hingga 300 persen adalah margin yang membuatnya dan pedagang lain bisa sedikit menabung dan bernapas lega. Kaki lima adalah etalase sesungguhnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Mereka datang, memilih, menawar, dan pulang dengan barang yang mereka butuhkan. Sebuah ritual sederhana yang menopang hidup banyak keluarga.
Namun, pandemi bukan hanya membawa penyakit, melainkan juga mengubah peta perdagangan secara permanen. Lapak Pak De kini terasa sunyi, sesekali hanya diselingi bunyi deru kendaraan yang melintas cepat. "Sekarang? Paling 40 persen saja. Itu sudah bagus," keluhnya, jemarinya memungut debu yang menempel di sepatu kulit hitam.
Menurutnya, biang keladinya bukanlah sepi pembeli semata, melainkan ‘serangan’ yang datang dari layar ponsel. Ia menyebutnya dengan istilah yang sederhana namun mematikan: media massa dan toko daring.
Saat pembatasan sosial diberlakukan, masyarakat ‘dipaksa’ untuk berdiam di rumah. Dalam keheningan rumah, internet dan media sosial menjadi jendela baru untuk berbelanja. Sebuah pergeseran budaya yang masif terjadi dalam sekejap.
"Mereka bilang, kenapa harus repot keluar, panas-panas, kalau di HP sudah bisa lihat semua model. Tinggal klik, besok sampai," jelas Pak De. Baginya dan para pedagang kaki lima lainnya, toko daring (online shop) telah merampas segmen pelanggan yang selama ini mereka layani. Pelanggan yang dulu mencari harga miring dan barang layak pakai di pinggir jalan, kini lebih memilih kenyamanan dan variasi tanpa batas di dunia maya.
Foto yang menangkap sosoknya di antara kerlap-kerlip malam adalah representasi visual dari keputusasaan ekonomi. Di bawah cahaya yang minim, ia harus bersaing dengan etalase virtual yang terang benderang. Perjuangannya kini bukan lagi sekadar melawan penertiban Satpol PP atau guyuran hujan, melainkan melawan arus teknologi yang melaju kencang. Beroperasi hingga tengah malam, pukul 12, bukan lagi berarti ramainya transaksi, melainkan hanya usaha maksimal untuk 'menjemput rezeki' yang tersisa. Pak De dan rekan-rekannya di Jalan Raya Bogor adalah potret nyata para veteran ekonomi jalanan yang kini harus menemukan cara baru untuk bertahan, di mana lapak fisik mereka perlahan ditelan oleh lautan data digital.

Komentar
Posting Komentar